Maju Berkarya atas Dasar Kemanusiaan & Kebenaran
banner 728x250

Dari Lagu Menjadi Cerita, Videografi Buka Wajah Baru Musik Indonesia

CentralPostNews.com | Jakarta, Sebuah lagu bisa selesai dalam hitungan menit, tetapi cerita yang lahir dari lagu tersebut bisa jauh lebih panjang. Melalui gambar, video dan fotografi, sebuah karya musik dapat kembali diperkenalkan kepada generasi yang bahkan tidak pernah mengalami masa ketika lagu itu pertama kali populer. Tiga tokoh dibalik pameran, Oleg Sanchabakhtiar, Firdaus Fadil dan Dion Momongan, angkat bicara.

Gagasan tersebut menjadi salah satu warna dalam pameran videografi bertema musik yang digelar di CC Cafe, Ampera Raya, Jakarta Selatan. Pameran ini tidak sekadar mempertontonkan karya visual.

Para kreator mencoba menjadikan musik sebagai sumber inspirasi untuk melahirkan cerita baru melalui kamera. Lagu-lagu dari berbagai genre, daerah dan generasi menjadi materi yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

Dari musik populer hingga lagu daerah, dari karya lama hingga musik yang berkembang di era digital, semuanya dipandang memiliki kesempatan untuk mendapatkan “wajah” baru.

Para penggagas bahkan mendorong fotografer dan videografer untuk tidak hanya menunggu datangnya proyek, tetapi aktif membawa gagasan. Mereka yang memiliki konsep dipersilakan datang dan berdiskusi untuk mengembangkan ide menjadi karya.

Semangat kolaborasi menjadi penting karena perkembangan industri musik saat ini semakin sulit dipisahkan dari dunia visual. Sebuah lagu bukan hanya membutuhkan suara yang kuat, tetapi juga video musik, fotografi, konten digital dan berbagai bentuk visual lain untuk menjangkau publik.

Namun, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana membuat visual menarik. Kreator juga dituntut memahami materi yang digunakan, termasuk persoalan hak cipta ketika sebuah lagu atau karya orang lain dijadikan bagian dari karya visual.

Perkembangan teknologi digital membuat proses produksi memang jauh lebih mudah. Kamera semakin praktis, telepon genggam mampu menghasilkan video berkualitas tinggi, sementara berbagai aplikasi memungkinkan proses penyuntingan dilakukan dalam waktu singkat. Tetapi kemudahan tersebut justru melahirkan tantangan baru.

Kreator tidak boleh sepenuhnya menyerahkan proses berkarya kepada teknologi. Referensi memang semakin mudah ditemukan, tetapi kreativitas, rasa dan keputusan artistik tetap harus datang dari manusia.

Hal itu terlihat dari pembahasan mengenai perjalanan fotografi dari era analog hingga digital. Jika dahulu fotografer harus melewati proses panjang di kamar gelap, kini berbagai proses dapat dilakukan secara digital. Perubahan teknologi tersebut bukan untuk menghilangkan karakter seorang fotografer, melainkan membuka lebih banyak kemungkinan dalam menghasilkan karya.

Karena itu, pameran di CC Cafe juga menjadi ruang edukasi bagi para pelaku kreatif untuk memahami bahwa teknologi dan kreativitas seharusnya berjalan beriringan.

Lebih jauh, kegiatan ini membawa misi untuk memperkenalkan kembali kekayaan musik Indonesia kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi digital.

Musik dari masa lalu tidak harus berhenti sebagai kenangan. Dengan pendekatan visual yang tepat, lagu lama bisa kembali berbicara kepada generasi baru.

Begitu pula musik daerah yang selama ini mungkin hanya dikenal di wilayah tertentu. Ketika dikemas melalui foto dan video yang kuat, karya tersebut berpeluang menjangkau penonton yang lebih luas, bahkan lintas daerah dan negara.

Pameran ini pun diproyeksikan tidak berhenti pada satu kegiatan. Sejumlah program dan kategori karya disiapkan untuk terus berjalan hingga beberapa bulan mendatang, sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi fotografer, videografer dan pelaku musik untuk berkolaborasi.

Pada akhirnya, kamera dalam proyek ini bukan sekadar alat untuk merekam.

Kamera menjadi cara untuk menjaga ingatan, memperkenalkan kembali musik Indonesia dan mengubah suara menjadi cerita yang bisa dilihat.

Sebab ketika sebuah lagu diterjemahkan menjadi visual, musik tidak hanya terdengar—ia juga meninggalkan jejak.

Untuk itu, dalam waktu dekat bakal digelar Indonesia Music Video Award (IMVA), diharapkan semua generasi terutama gen Z ikut dalam ajang tersebut. (SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TDPSE-SBKM